Sosialisasi Kebijakan Perdagangan Luar Negeri


Post by Dinas Perindustrian dan Perdagangan(BUDI SETIAWAN, ST, M.Si) | Posted on 27 September 2013 05:46:58 WIB | Industri dan Perdagangan | 1126 kali dibaca


Sosialisasi Kebijakan Perdagangan Luar Negeri

Padang, 17 – 18 September 2013 di Grand Hotel Inna Muara Padang

 

Sosialisasi Kebijaksanaan Perdaganan Luar Negeri bagi UKM dan aparat di Bidang Perdagangan Kabupaten/Kota Sumatera Barat yang dilaksanakan di Grand Hotel Inna Muara Padang pada tanggal 17 s/d 18 September 2013 diikuti oleh 30 orang UKM dan aparat.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan para UKM dan aparat dibidang Perdagangan luar Negeri.

Nara Sumber berasal dari Kementerian Perdagangan Repulik Indonesia.

Sosialksasi ini dibuka oleh Bapak Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Barat Bapak Ir. H. Afriadi Laudi, M.Si dengan menyampaikan beberapa hal sebagai berikut :

Dengan semakin berkembangnya perdagangan luar negeri yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro global yang terjadi sekarang seperti krisis ekonomi yang terjadi di negara-negara Eropa yang dipicu oleh memburuknya keuangan Yunani berdampak juga terhadap perdagangan luar negeri Indonesia. Dimana perdagangan luar negeri Indonesia pada umumnya dan Sumatera Barat khususnya memperlihatkan kecenderungan yang menurun.

Perkembangan ekspor Sumatera Barat pada tahun 2012 mengalami penurunan sebesar 22,04% dibandingkan dengan tahun 2011, yaitu dari US$ 3,05 milyar pada tahun 2011 menjadi US$ 2,36 milyar 2012. Sedangkan ekspor tahun 2013 sampai dengan Juli sebesar US$ 1.236,0 juta menurun sebesar 15.48% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012 yaitu US$ 1.462.4 juta. Dan ekspor ini adalah penyumbang PDRB Sumatera Barat pada tahun 2012 sebesar 27,96%

Negara utama tujuan ekspor Sumatera Barat adalah Amerika Serikat, India, China, Singapura dan Malaysia. Sedangkan komoditi yang memberikan kontribusi yang cukup besar untuk ekspor Sumatera Barat adalah CPO dan turunannya, Karet, Kakao, Batubara, Minyak Atsiri dan rempah-rempah seperti gambir, kulit manis dan lain-lain.

Dari sisi Impor Sumatera Barat pada tahun 2011 mencapai US$ 1.076 juta yang pada tahun 2012 menjadi US$ 1.242,9 juta.

Adapun produk-produk yang diimpor adalah bahan bakar mineral, mesin-mesin/pesawat mekanik, benda-benda dari besi dan baja, gandum-ganduman serta kertas karton dan negara pemasok dari produk-produk impor tersebut antara lain Singapura, China, Rusia dan Norwegia.

     Dari uraian di atas tentu mempunyai arti bagi kita semua, baik itu bagi pemerintah, bagi pengusaha maupun bagi masyarakat.

Bagi pemerintah (pemerintah pusat dan daerah) nilai ekspor merupakan salah satu indikator kinerja ekonomi yang selalu menjadi sorotan.

Demikian juga pengusaha dan masyarakat, mereka mempunyai interprestasi sendiri – sendiri mengenai hal ini.

Dalam era perdagangan bebas yang telah kita rasakan dampaknya sekarang, terutama semenjak diberlakukannya ASEAN – China Free Trade Area, sektor industri dan perdagangan sebagai tulang punggung ekonomi nasional serta semua sektor lain yang terkait harus senantiasa meningkatkan efisiensi guna meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan.

Apalagi pada akhir tahun 2015 yang akan datang, diberlakukannya ASEAN Economic Community (AEC)/ Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), tantangan perdagangan internasional tentu akan semakin keras.

Setiap negara dalam era perdagangan bebas ini berusaha untuk melindungi kepentingan nasionalnya, dengan membuat aturan-aturan, terutama aturan non tarif, sehingga barang masuk dan keluar dapat dikontrol.

Pertumbuhan perekonomian negara lain telah berkembang ke arah yang lebih kompetitif dibandingkan negara Indonesia. Di antara negara-negara tersebut adalah China dan beberapa negara ASEAN seperti Thailand dan Malaysia, walaupun sebenarnya di negara-negara tersebut juga mengalami dampak akibat krisis global. Biaya tenaga kerja di negara tersebut relatif murah, disamping itu birokrasi juga relatif sederhana serta infra struktur yang menunjang sehingga menjadi pesaing yang kuat, tidak saja bagi negara kita yang sedang berbenah diri.

Kami berpendapat, kemajuan dari negara-negara lain sebagaimana diuraikan di atas, tidak hanya akan mengurangi daya saing produk kita di luar negeri, akan tetapi juga akan berpengaruh kepada daya saing produk kita di dalam negeri sendiri, karena seperti kita lihat makin banyaknya produk-produk luar terutama dari China yang membanjiri pasar dalam negeri dengan kualitas yang cukup baik dan harga yang murah.

Sementara itu kemampuan pelaku ekonomi dalam negeri   yang relatif terbatas telah membuat mereka sulit untuk menghadapi arus perubahan yang berlangsung cepat dan sangat berpengaruh kepada lingkungan bisnis.

Untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan daya saing produk ekspor dari Indonesia, Kementerian Perdagangan telah melakukan kebijakan hilirisasi, yang secara sederhana dapat diartikan komoditi/produk yang diekspor tidak lagi dalam bentuk raw material (hulu) tetapi paling tidak telah mengalami proses sehingga telah menjadi barang setengah jadi atau bahkan barang jadi (hilir).

Hilirisasi yang dicanangkan telah diberlakukan untuk beberapa komoditi/produk, seperti rotan dan hasil pertambangan. Dimana komoditi ini tidak dapat lagi diekspor dalam bentuk raw material.

Selain itu kebijakan hilirisasi ini juga untuk membangun industri dalam negeri dan untuk menjamin ketersediaan bahan baku bagi industri dalam negeri.

Dalam melakukan kegiatan ekspor dan impor tentu menyangkut banyak kegiatan dan proses yang melibatkan banyak orang dan institusi, bisa secara formal atau informal, mulai dari tingkat produsen bahan baku seperti petani sampai kepada pemerintah sebagai regulator.

Dalam kegiatan yang tingkat kompleksitasnya boleh dikatakan tinggi ini, tentu banyak kepentingan yang harus dipenuhi di dalamnya. Banyak permasalahan yang bisa berkembang menjadi hambatan yang serius dalam menjalankan usaha, untuk itu diperlukan suatu komunikasi yang baik dari semua pihak, agar tujuan dan kepentingan masing – masing dipenuhi.

Sebagi contoh yang masih hangat sampai saat ini adalah impor kedelai, bawang dan daging.

 

Kami kira hal – hal seperti itulah yang menjadi landasan diadakannya kegiatan kita hari ini, yaitu “Sosialisasi Kebijakan Perdagangan Luar Negeri” oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Sumatera Barat bekerjasama dengan Kementerian Perdagangan dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam perdagangan luar negeri baik itu ekspor maupun impor.

 


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • BATIGO FEST

    • Senin, 28 Oktober 2019
    • Sabtu, 02 November 2019
  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh