Sisi Lain HPN 2018


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 31 Januari 2018 15:49:46 WIB | Artikel | 188 kali dibaca


Sisi Lain HPN 2018

Hari Pers Nasional (HPN)  tahun 2018 akan dipusatkan di Sumbar.  Berbagai kegiatan menjelang puncak acara HPN 2018 sudah banyak diselenggarakan. Di antara hal yang sudah dijalankan adalah penerbitan buku HPN 2018. Buku ini cukup istimewa karena terdapat teknologi baru yang disebut augmented reality. Sayangnya saya baru menerima file dalam format PDF (soft copy). Untuk melihat buku tersebut dengan teknologi augmented reality harus dari buku hard copy-nya.

Satu hal yang menarik dalam buku HPN 2018 adalah dicantumkannya nama-nama tokoh pers asal atau kelahiran Sumbar. Di antaranya sudah ada yang menjadi pahlawan nasional, dan ada juga yang tidak atau mungkin belum.   Nama-nama tersebut di antaranya adalah: Djamaluddin Adinegoro, Ani Idrus, Mochtar Lubis, Roehana Koeddoes, Petrus Kanisius Ojong, dan H. Rosihan Anwar.

Djamaluddin Adinegoro ternyata memiliki latar pendidikan STOVIA atau sekolah kedokteran. Namun memperdalam jurnalistik di Jerman dan Belanda. Ia lahir di Talawi, Sawahlunto. Ani Idrus, lahir di Sawahlunto, mendirikan Harian Waspada di Medan.  Mochtar Lubis lahir di Padang, turut mendirikan Kantor Berita Antara. Roehana Koeddoes lahir di Koto Gadang, Kab. Agam, pendiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia, hidup semasa dengan Kartini. Petrus Kanisius Ojong lahir di Bukittinggi, slah satu pendiri Kelompok Kompas Gramedia. H. Rosihan Anwar lahir di Kubang Nan Duo Sirukam Kab. Solok, adalah sejarawan, sastrawan, juga budayawan, yang tulisannya ada di hampir semua koran dan majalah utama di Indonesia dan juga penerbitan asing.

Mnelihat sejarah singkat para tokoh pers asal Sumbar ini saya jadi teringat dengan sastarawan asal Sumbar yaitu Taufik Ismail. Seperti halnya Adinegoro yang berpendidikan Stovia, ternyata Taufik Ismail berpendidikan sebagai dokter hewan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB). 

Ketika peluncuran i-ternak di Hotel Balairung Jakarta pada 6 Januari 2018 lalu, Taufik Ismail hadir dan bercerita bahwa ia adalah seorang dokter hewan lulusan IPB. Taufik bisa terdampar di IPB karena ketika duduk di bangku sekolah setingkat SMA ia mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat.

Ketika hidup di Amerika, ia tinggal di lingkungan peternakan sapi yang memiliki area yang luas. Karena takjub dengan kondisi yang ia lihat maka ia bercita cita menjadi peternak sapi. Ketika orang tuanya bertanya tentang pendidikan selanjutnya setelah pendidikan tingkat SMA maka Taufik menjawab ia akan menjadi peternak, sehingga dipilihlah IPB. Tapi sayangnya jurusan yang ia dambakan tidak ada sehingga akhirnya memilih jurusan kedokteran hewan.

Poin penting dari kisah Taufik Ismail dan sejarah singkat Adinegoro adalah ternyata kemampuan menulis tidak selalu sejalan dengan latar belakang pendidikan. Namun dari bakat, minat, kemauan, kecenderungan, keingintahuan, yang kemudian dieksekusi.

Dengan melihat kisah di atas, maka di momentum pelaksanaan HPN 2018 nanti bukan tidak mungkin bisa menjadi sebuah titik perenungan orang Sumbar untuk mengasah lagi dan meningkatkan lagi kemampuan menulis dan jurnalistik mereka sehingga semakin berkualitas dan mampu bersanding di kancah nasional.

Salah satu syarat untuk tercapainya hal mitu adalah memiliki integritas, intelektual, visi yang kuat, dan rendah hati serta sabar. (efs)

ilustrasi: freefoto.com


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • Penyerahan Hasil Pengawasan Kearsipan Eksternal (LAKE) oleh ANRI ke Le

    • Kamis, 14 Desember 2017
    • Kamis, 14 Desember 2017
  • arsip kegiatan

Tokoh