UAS


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 28 Desember 2017 00:23:12 WIB | Artikel | 93 kali dibaca


UAS

Desember ini selain momentum liburan sekolah, juga merupakan waktu dilakukannya ujian akhir semester atau UAS. Harga tiket pesawat untuk liburan sekolah kembali merangkak naik. Seperti peristiwa hari raya, di mana permintaan tinggi tapi persediaan atau penawaran tidak bertambah signifikan, sehingga terjadi kenaikan harga.

Ketika liburan sekoah, jalan raya ketika pagi lengang. Namun tempat wisata penuh, termasuk penuh dengan kendaraan. Ini memperlihatkan bahwa kendaraan pribadi ketika hari sekolah penuh dengan para siswa yang memadati jalan raya, dan memadati kawasan wisata ketika liburan.

Setelah mengikuti UAS memang lega rasanya, bisa melakukan apa saja sepertinya. UAS adalah jalan yang harus ditempuh para siswa untuk naik kelas. Memang harus mengikuti UAS ganjil dan genap untuk naik kelas. Tanpa ikut UAS sepintar apapun seorang murid, ia tak akan lulus atau naik kelas, karena tidak bisa ditulis nilai prestasi dia ketika ujian.

Sebutan UAS selain identik dengan ujian juga kini identik dengan nama seorang ustadz, yaitu ustadz Abdul Somad. Pasca ia ditolak di Bali dan dideportasi di Hongkong, nama UAS semakin terkenal. Orang semakin penasaran dengan sosok UAS ini.

UAS memang sosok fenomenal. Keterkenalan publik terhadapnya dimulai dari tersebarnya video ceramahnya yang mudah dicerna dan tidak membosankan. Ia mampu mengundang audiens untuk menikmati ceramahnya. Isi ceramahnya mengajak bersatu, menghargai perbedaan, dan kembali kepada ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

UAS sepertinya mampu mendekati generasi muda, termasuk generasi milenial yang menyukai media sosial. UAS memiliki akun instagram, facebook dan youtube. Ketiganya adalah sangat familiar dengan generasi milenial.

UAS juga sosok egaliter, yang bisa diundang oleh siapa saja. Isi video ceramahnya renyah dan seperti memberi inspirasi baru di tengah suasana perpolitikan nasional yang makin panas di media sosial dan media online.

Karena UAS sosok egaliter,  maka tak sulit ia diterima oleh masyarakat internet atau warganet atau netizen. Tapi sayangnya di youtube banyak yang memotong isi video ceramahnya dan diedit lalu diberi judul yang provokatif yang sangat mungkin berbau ajakan kebencian. Padahal UAS sendiri selalu menerangkan jati dirinya.

Dalam sebuah kunjungan UAS ke Padang, banyak masyarakat rela datang dari jauh hanya sekedar untuk mendengar ceramah UAS yang punya nuansa tersendiri. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang tidak bisa datang ke tempat acara lalu melihat video streamingnya. 

Di sebuah outlet penjualan hp saya melihat petugas yang bertugas di hari UAS ceramah,  menonton video streaming ceramah UAS di Masjid Agung Nurul Iman. Ini pertanda masyarakat sebenarnya sedang mencari guru agama melalui pendekatan atau perantara gadget. Dan saat ini UAS adalah orang yang menyediakan konten yang bisa dinikmati dalam memperdalam pemahaman terhadap agama Islam melalui gadget dengan menonton video ceramah agama. 

Di sisi lain, ceramah  UAS nampaknya tidak disukai pihak tertentu,  karena dikhawatirkan mengganggu periuk nasi mereka.  Maka selalu saja ada orang yang ingin menghancurkan nama UAS agar namanya tidak lagi positif di mata masyarakat. 

Sebaliknya, akibat perlakuan negatif kepada UAS semakin banyak orang yang membelanya. Terlebih, UAS tidak berpolitik praktis. Ia seorang dosen. Pegawai negeri pula. 

Semoga semakin banyak muncul UAS yang lain di negeri ini, yang mampu menyampaikan ajaran agama dengan baik dan mudah diterima serta dicerna oleh masyarakat umum. Fenomena UAS adalah fenomena akan kebutuhan masyarakat memahami agamanya dengan lebih baik lagi. (efs) 

 


Berita Terkait :

Belum Ada Berita Terkait

 

Video

Foto

Kegiatan

  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • Penyerahan Hasil Pengawasan Kearsipan Eksternal (LAKE) oleh ANRI ke Le

    • Kamis, 14 Desember 2017
    • Kamis, 14 Desember 2017
  • arsip kegiatan

Tokoh