Besarnya Kredit yang Belum Terpakai


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 13 Desember 2017 15:36:52 WIB | Artikel | 623 kali dibaca


Besarnya Kredit yang Belum Terpakai

Tabloid Kontan edisi 11-17 Desember 2017 merilis berita dengan judul “Kredit Menganggur di Bank Masih Subur”. Di berita ini disebutkan rilis OJK Pusat yang mempublikasikan statistik perbankan indonesia bahwa hingga September 2017 nilai kredit yang belum ditarik nasabah di Indonesia berjumlah 1,400 triliun rupiah.

Jika dibandingkan angka di tahun 2016 sebesar 1.277,5 triliun rupiah maka ada kenaikan sebesar 9,26 persen. Tren peningkatannya ternyata sudah terlihat sejak Maret 2017. Salah satu penyumbang terbesar kredit tidak terpakai ini adalah BRI dengan angka 120,71 triliun rupiah. Nilainya sama besarnya dengan tahun 2016 yaitu 120,91. Ada penurunan sedikit di tahun 2017 dibanding tahun 2016. Di BRI, mayoritas kredit yang belum ditarik adalah kredit untuk pembiayaan modal kerja. Secara segmen, ternyata kredit korporasi dan kredit BUMN menyumbang porsi 85 persen dari kredit menganggur.

Selain BRI, BNI juga mencatatkan kredit menganggur cukup tinggi, yaitu 49,49 triliun rupiah. Dibanding tahun 2016 yang berjumlah 54,54 triliun rupiah, maka di tahun 2017 ada penurunan. Kredit yang belum ditarika nasabah di BNI ini mayoritas ada di sektor listrik, air, dan gas, serta industri sebesar 48,3 triliun rupiah.

Sementara masih di bank pemerintah yaitu BTN, jumlah kredit menganggurnya tidak sebesar dua bank sebelumnya. Per september 2017 jumlahnya 969,11 miliar. Sedangkan di akhir 2016 jumlahnya 713,44 miliar rupiah. Ada kenaikan cukup besar di sini sebesar 35,83 persen. Jadi, meskipun jumlahnya tidak sebesar BRI dan BNI, terjadi kenaikan jumlah kredit menganggur di BTN. Sementara di BRI dan BNI justru terjadi penurunan dari taun 2016 ke 2017. Sementara itu, di BTN ada 47,35 miliar kredit menganggur yang berada di bawah pengawasan khusus. Jumlahnya turun dibanding tahun 2016 sebesar 55,41 miliar rupiah.

Jika melihat perbandingan dari tahun ke tahun, ternyata jumlah kredit menganggur sejak 2013 hingga 2017 mengalami kenaikan. Pada 2013 1.013 triliun rupiah, pada 2014 1.137 triliun rupiah, pada 2015 1.219 triliun rupiah, pada 2016 1.304 triliun rupiah, dan pada 2014 1.400 triliun rupiah.

Besarnya kredit produktif yang belum ditarik oleh nasabah ini mungkin berhubungan dengan melemahnya daya beli dan juga pertumbuhan ekonomi yang tidak tinggi juga tidak rendah. Sehingga uang beredar atau perputaran uang tidak bisa cepat atau memiliki multiplier effect kepada kesejahteraan masyarakat.

Maka di sini bank dan juga pemerintah perlu menyiasati kondisi ini agar dana kredit yang sudah disiapkan oleh bank bisa ditarik nasabah sehingga uang berputar, berpindah tangan sehingga roda ekonomi semakin bergerak dan memberi dampak positif.

Di luar dana kredit yang masih menganggur ini memang ada pula kredit konsumtif, juga kredit bagi UMKM. Kedua kredit ini tetap berjalan. Namun sayangnya kredit produktif yang dananya menganggur jumlahnya cukup besar.

Mungkin diperlukan inovasi kebijakan agar dana kredit yang menganggur itu bisa ditarik oleh nasabah agar perputaran ekonomi tetap berjalan. Sayang sekali dana sebesar itu tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Padahal dana tersebut mungkin saja bisa mengimbangi serapan anggaran yang dinilai lambat keluar atau lambat cair sehingga serapan di masyarakat pun lambat dan jumlahnya menjadi tidak signifikan. Belum lagi jika mendengar kabar bahwa bank bank tidak menurunkan suku bunga pinjaman atau kredit meskipun Bank Indonesia sudah menurunkan tingkat suku bunga agar ekonomi bergerak lebih cepat.

Semoga kondisi yang demikian ini ada jalan keluarnya. Untuk dana kredit menganggur ini, dananya ada. Tinggal nasabah “mau kerja atau tidak”. (efs)

Referensi: Tabloid Kontan, 11-17 Desember 2017

ilustrasi: freefoto.com


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • BATIGO FEST

    • Senin, 28 Oktober 2019
    • Sabtu, 02 November 2019
  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh