Prospek Pembiayaan Syariah Non Bank


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 27 Agustus 2017 06:06:37 WIB | Artikel | 1112 kali dibaca


Prospek Pembiayaan Syariah Non Bank

Di tengah kondisi ekonomi yang cenderung optimis namun kurang bergairah, industri keuangan non bank syariah (termasuk pembiayaan syariah non bank) ternyata bergerak optimis dan bergairah. Harian Bisnis Indonesia edisi 22/8/17 mengulas bahwa kontributor utama pertumbuhan aset industri keuangan nonbank (IKNB) syariah adalah lembaga pembiayaan syariah.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh OJK per Juni 2017, total aset IKNB syariah tumbuh 25,08 persen dibanding tahun 2016 pada bulan yang sama. Pada Juni 2016 total aset IKNB adalah Rp78,03 triliun. Dan pada Juni 2017 menjadi Rp97,6 triliun.

Adapun rinciannya adalah, total aset lembaga pembiayaan syariah nilainya Rp38,77 triliun. Rp37,48 triliun disumbang oleh perusahaan pembiayaan syariah. Rp1,18 triliun berasal dari pembiayaan modal ventura syariah, Rp107 miliar berasal dari pembiayaan infrastruktur syariah.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan  Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno, di beberapa daerah konsumen malah memilih pembiayaan syariah. Selain itu, pembiayaan syariah juga mengalami peningkatan karena adanya tambahan segmen seperti pembiayaan umroh. Hal ini turut meramaikan ragam pembiayaan syariah.

Berdasarkan data yang dilansir oleh Bisnis Indonesia, per Juni 2017 aset IKNB syariah adalah sebagai berikut: 1. Asuransi syariah senilai Rp37.373 miliar. 2. Lembaga pembiayaan syariah senilai Rp38.776 miliar. 3. Lembaga jasa keuangan khusus syariah Rp21.388 miliar. 4. Lembaga mikro keuangan syariah Rp71 miliar. 

Pembiayaan syariah mengalami pertumbuhan signifikan karena masyarakat semakin bisa menerima keberadaan keuangan syariah. Dan sosialisasi mengenai keuangan syariah juga berjalan terus menerus meskipun skalanya belum bisa dibilang besar. Dampaknya, terkesan hanya sebagian masyarakat yang memiliki kecenderungan gaya hidup yang islami sajalah yang bisa mendaoatkan pembiayaan syariah ini. Atau di sisi lain, sebagian masyarakat kelas menengah ke bawah atau berpenghasilan menengah ke bawah yang sebenarnya rasional mulai melirik pembiayaan syariah.

Sementara di sisi lain, adanya gerakan anti riba di satu sisi ternyata ikut mengurangi minat masyarakat terhadap pembiayaan syariah karena dianggap masih terkandung riba di dalamnya. Menyikapi hal demikian, masyarakat sebenarnya bisa mencari informasinya melalui internet.  

Namun demikian, diskursus tentang pembiayaan syariah ini ternyata juga menyebar melalui media sosial dan justru membuka mata masyarakat sehingga mereka mencoba mencari tahu yang sebenarnya.

Secara umum, dengan dukungan dari Bank Indonesia pembiayaan syariah terus mengalami pertumbuhan. Meskipun tidak sebesar pembiayaan konvensional tetapi laju pertumbuhannya mengindikasikan kesadaran masyarakat untuk mencoba pembiayaan syariah.

Hal yang tak kalah pentingnya adalah menyiapkan sumberdaya manusia yang memang bisa bekerja dengan baik di sektor pembiayaan syariah ini. Karena karakter pekerjaannya bisa dibilang sedikit berbeda dengan pembiayaan konvensional.

Tidak hanya masalah pengetahuan tentang pembiayaan syariah yang mesti dimiliki oleh SDM tersebut, akan tetapi moral atau akhlak yang seharusnya kompatibel dengan pembiayaan syariah itu sendiri. Karena pada dasarnya pengamalan ajaran Islam baru akan bisa dinikmati oleh masyarakat banyak ketika akhlak menyertainya.

Tanpa akhlak, aura dalam industri keuangan syariah (terutama pembiayaan syariah) akan mengurangi indahnya ajaran Islam dalam penerapan di kehidupan. (efs)

 

Referensi: Bisnis Indonesia 22 Agustus 2017


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh