Riset, Obat dan Dunia Farmasi


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 18 Maret 2017 22:31:05 WIB | Artikel | 273 kali dibaca


Riset, Obat dan Dunia Farmasi

Kesehatan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Tanpa kesehatan, hidup manusia menjadi kurang bahagia dan mungkin akan mengalami depresi. Untuk itu, bagi manusia yang hidupnya sehat sudah sepantasnya banyak bersyukur kepada Tuhan Yang Menciptakannya.

Dan pemerintah pun kini menjadikan besaran anggaran kesehatan dalam sebuah APBD provinsi maupun kota/kabupaten sebagai prasyarat untuk memberikan bantuan sosial maupun meningkatkan anggarannya. Ini pertanda bahwa kesehatan memang sangat penting bagi sebuah bangsa dan negara.

Dalam menjamin kesehatan warganya, setiap negara memiliki kebijakan tersendiri. Negara-negara maju umumnya menjamin penuh biaya berobat warganya. Seperti di negara-negara Eropa. Sementara negara berkembang seperti Indonesia, sudah ada asuransi kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS. Ini hal yang patut disyukuri setelah lebih dari 50 tahun merdeka akhirnya kesehatan masyarakat Indonesia dilindungi dengan adanya asuransi BPJS.

Sementara itu di sisi lain, dengan besarnya jumlah penduduk Indonesia, maka jumlah obat yang diproduksi pun cukup besar. Dan menjadi tantangan tersendiri bagi produsen obat dalam hal ini. PT Kalbe Farma misalnya, telah mengalokasikan dana sebesar Rp200 miliar setiap tahun untuk riset. Itu adalah jumlah minimal, karena setiap tahun dana yang dikeluarkan cenderung meningkat.

Pertumbuhan penjualan dan alokasi dana riset sepertinya memiliki hubungan yang erat agar mampu bersaing bagi perusahaan farmasi ini. Pada tahun lalu pertumbuhan dana riset Kalbe Farma sebesar 25% dan penjualan 8%. Sedangkan tahun ini ditargetkan pertumbuhan dana riset sebesar 30% dan penjualan 10%.

Rupanya inovasi yang dibantu oleh riset sudah menjadi kebutuhan perusahaan farmasi saat ini untuk bisa tetap bersaing. Dan di samping itu ternyata untuk masuk dalam katalog obat BPJS, harga yang ditetapkan dianggap oleh produsen sangat rendah sehingga keuntungannya pun sangat tipis. Di satu sisi ini memang menguntungkan masyarakat karena pemerintah jelas berpihak kepada rakyat. Namun di sisi lain menjadi tantangan bagi produsen obat untuk tetap bisa menjaga kelangsungan hidup mereka.

Biaya produksi para produsen obat ini ditekan sedemikian rupa agar bisa tetap eksis. Ada yang melakukan penekanan biaya dengan memanfaatkan energi terbarukan sehingga tidak bergantung kepada energi listrik yang cukup menyita dana besar.

Dengan jumlah peserta asuransi BPJS sebanyak 170 juta, ternyata penjualan obat generik hanya berkisar 30 persen. Maka para produsen obat dengan berbagai cara mengakali agar tetap memperoleh margin keuntungan yang memadai.

Cukup menarik mencermati mengamati perkembangan dunia farmasi di Indonesia. Karena dari hal ini kita bisa mengetahui bahwa seringkali terjadi tarik menarik antara penetapan harga obat dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memproduksi obat.

Namun sepertinya pemerintah masih memilih win-win solution terhadap permasalahan ini sehingga masyarakat dan perodusen obat tetap diuntungkan. Dan jika melihat bagaimana produsen obat melakukan risetnya, ini juga kabar gembira bahwa dunia farmasi di Indonesia semakin hari semakin mencoba memberikan yang terbaik di dunia pengobatan. Berbagai penyakit yang kian hari berkembang dicoba dicarikan jalan keluarnya dengan melakukan riset sehingga bisa dihasilkan obat yang mampu menangani penyakit yang kian hari kian canggih.

Referensi: Bisnis Indonesia 16 Maret 2017


Berita Terkait :

Belum Ada Berita Terkait

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penandatanganan Kesepakatan Gerakan Nasional Tertib Arsip

    • Kamis, 14 September 2017
    • Kamis, 14 September 2017
  • Peringatan Hari Pangan Sedunia Tingkat Sumatera Barat

    • Jumat, 29 September 2017
    • Minggu, 01 Oktober 2017
  • arsip kegiatan

Tokoh